Rabu, 17 April 2013

Kebudayaan Geng Motor Di Kalangan Pelajar



Kebudayaan Geng Motor Di Kalangan Pelajar

            Masa muda merupakan masa dimana seseorang mempunyai tingkat semangat yang tinggi, penuh kreasi, dan ingin mempunyai tantangan hidup. Tidak terkecuali bagi kalangan pelajar yang sedang menjalani masa mudanya tersebut, mereka tentu ingin mencari media penyampaian hasrat masa muda mereka untuk menunjukan jati diri mereka terhadap orang lain.

            Ada pelajar yang menyalurkan hasratnya tersebut kedalam hal-hal atau kegiatan positif, seperti kegiatan olah raga, aktif dalam organisasi, maupun mengasah kemampuan akademik. Dan ada pula yang menyalurkannya kepada suatu bentuk kegiatan yang bisa dikatakan negatif, seperti tawuran, tindak premanisme, penggunaan obat terlarang, maupun kegiatan terlarang seperti geng motor.

            Hal ini merupakan fenomena nyata yang terjadi di sekitar kita yang harus kita teliti dan amati terhadap perkembangan para pelajar saat ini, karena merekalah penerus generasi perjuangan bangsa.

            Dilihat dari sisi negatif penyaluran hasrat masa muda yang dilakukan oleh para pelajar, terdapat kasus yang menarik yang selama ini sering terjadi menimpa kaum pelajar yang ada di kota bandung dan daerah sekitarnya, yakni maraknya perilaku menyimpang sampai pada tindakan kriminal akibat memasuki dunia geng motor.

            Geng motor adalah suatu kelompok pemuda atau sekumpulan individu yang memiliki ketertarikan yang sama terhadap kendaraan sepeda motor. Geng motor berbeda dengan club motor, karena tidak memiliki spesifikasi jenis kendaraan yang mereka gunakan. Contoh, club motor memiliki nama seperti club vespa, club mio, dan club motor gede semisal brotherhood. Sedangkan geng motor secara bebas memperbolehkan segala jenis motor untuk gabung menjadi anggotanya.

            Hal menonjol lain yang membedakan geng motor dengan club motor adalah perilaku mereka yang biasanya mengarah kepada penyimpangan sosial sampai tindak kriminal seperti pencurian, pemerasan, tindak anarkis, dan pembunuhan. ironisnya dalam organisasi ini hampir sebagian besar anggotanya masih berstatus sebagai pelajar, baik di tingkat SMA maupun SMP.

            Hal ini merupakan potret buram dunia pendidikan di Indonesia karena generasi penerusnya lebih tertarik kepada hal seperti itu dibandingkan dengan mengenyam pendidikan dengan sungguh-sungguh.

            Maraknya pelajar yang masuk kedalam organisasi geng motor diduga karena kurang adanya bimbingan dari pihak sekolahnya tentang proses pergaulan yang terjadi pada siswanya, selain itu faktor perhatian orang tua dan rendahnya kesadaran diri akan arti pentingnya pergaulan di kalangan pelajar mendukung berjamurnya anggota geng motor tersebut.

            Ada beberapa geng motor besar yang disegani di daerah bandung ini, diantaranya yaitu Moonraker , Grab on Road (GBR), Exalt to Coitus (XTC) dan Brigade Seven (Brigez). Keempat geng itu sama- sama eksis dan memiliki anggota di atas 1000 orang. Kini mereka mulai menjalar ke daerah- daerah pinggiran Jawa Barat, seperti Tasikmalaya, Garut, Sukabumi, Ciamis, Cirebon dan Subang.

            Masuk ke dalam komunitas geng motor tersebut tidak gampang. Calon anggota Moonraker, misalnya, tak jarang diwajibkan mengendarai motor tanpa rem dari Lembang hingga Jalan Setibudhi Bandung. Jaraknya sekitar 15 kilometer. Jika tidak mereka akan disuruh ngebut tanpa rem, serta anak baru dipaksa berkelahi dengan seniornya. Singkatnya, mereka tampil pada panggung kehidupan sosial dengan menawarkan model-model kekerasan. Diakui atau tidak, itulah pola yang terbentuk melalui berbagai gerakan yang mereka tampilkan. Tindakan kekerasan seperti kebutuhan spritual untuk membentuk identitas kelompoknya.

            Mereka menganggap, dengan kebersamaan itulah mereka menjadi lebih kuat, lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai lawan dan tantangan yang berada di depannya. Tapi Tidak sedikit pula yang dengan jalan tersebut justru menjadi boomerang bagi masa depannya, seperti dekeluarkan dari sekolah, luka fisik dan mental bahkan sampai mengarah pada kematian.

            Oleh karena itu kita sebagai pribadi yang memiliki kekuatan iman serta pola pikir yang jernih harus mampu mengendalikan hasrat masa muda kita untuk digunakan dalam kegiatan yang positif.
Title: Kebudayaan Geng Motor Di Kalangan Pelajar; Written by peri heriyanto; Rating: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar